Minggu, 17 Oktober 2021
Bacaan : Mazmur 139 : 1-18
… Maka ia menyebut TUHAN, yang telah berkata-kata kepadanya, “Allah Yang Memperhatikan”. (Kejadian 16:13—BIMK)
Saya sering merasa frustasi ketika anak perempuan saya berusaha mengajari saya beberapa peralatan teknologi terbaru yang sepertinya tidak dapat saya kuasai. Saya merasa seperti mengeluarkan label bodoh yang selama ini berada di balik kemeja saya lalu saya tempelkan di dada saya dengan huruf neon yang menyala.
Dengan mengenakan label ini, saya merasa dibenarkan bahwa saya tidak dapat mempelajari suatu hal yang baru; saya ya begini adanya—”sebagaimana Tuhan menciptakan saya.”
Tetapi Cricket tidak mau menerimanya. “Ma,” katanya dengan nada yang tidak simpatik, “ayolah, berhenti berlagak bodoh. Aku tahu Mama tidak seperti itu. Mama pasti bisa. Berhenti bersembunyi di balik topeng ‘cara kuno’ dan ayo konsentrasi belajar ‘cara baru’ ini.”
Kita seringkali mengandalkan label untuk menerangkan identitas diri kita. Jika kita merasa tidak yakin akan siapa kita sebenarnya—atau mungkin tidak menyukai diri kita yang sebenarnya—mungkin kita bersembunyi di balik label yang mencerminkan pribadi yang kita harapkan.
Atau, seperti dalam kasus saya, kita memakai label sebagai alasan. Label yang merusak seperti bodoh, gendut, pecundang atau tak berdaya. Mungkin juga label tak berharga atau barang rusak. Tipe-tipe label seperti ini mungkin bisa melepaskan stres dengan cara mengurangi ekspektasi orang lain terhadap diri kita untuk sementara, namun itu akan mengikis kepercayaan diri kita. Jika kita mengenakan label itu dalam jangka waktu yang cukup lama, pada akhirnya kita akan lupa akan keberadaannya. Atau kekuatannya.
Label-label ini membentuk pola pikir kita, di mana secara bawah sadar mengubah perilaku kita supaya cocok dengan label ini.
Jadi, label tersembunyi apakah yang Anda tempelkan di balik kemeja Anda? Apakah Anda menyembunyikannya sedemikian rupa sehingga tak ada seorang pun mengetahuinya selain Anda sendiri? Saya punya kabar baik untuk Anda, kawan: Ada Pribadi yang melihatnya, dan Dia pun tidak menerimanya.
Ya Tuhan yang tidak menyukai alasan,
Aku sangat bersyukur karena Engkau tidak mempercayai label-label. Ketika Engkau melihatku, Engkau tidak melihat label yang telah kutempelkan pada diriku sendiri melainkan melihatku sebagaimana Engkau menciptakan aku.
From ” Too Blessed To Be Stressed . . . Inspiration for Every Day” by Debora M. Coty

