Melawan Kesombongan

Kamis, 22 September 2022

Bacaan : Amsal 16 : 1-19

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. (Amsal 16:18)

Banyak di antara kita yang berusaha mendefinisikan diri kita berdasarkan pencapaian kita, untuk menemukan keberhargaan kita berdasarkan apa yang kita kerjakan, dan bukannya berdasarkan siapa yang memiliki kita. Kita membiarkan pencapaian kita, prestasi kita, penghargaan kita, dan kemenangan kita untuk mendefinisikan diri kita bukannya mengakui Allah sebagai sumber segala hal yang baik yang terjadi dalam hidup kita. Kita ingin memperoleh pujian dengan dikenal sebagai pemenang, pemimpin, seseorang yang “memiliki segalanya.”

Dan ketika hal-hal berjalan dengan baik, yang biasanya berarti berjalan sesuai dengan keinginan kita, hidup terasa luar biasa. Kita punya cukup uang di rekening bank kita, rumah kita tetap bersih, pasangan kita setia, dan anak-anak kita sehat dan bahagia. Ketika semuanya berjalan baik, kita merasa kita adalah sumbernya. Kita ingin mendapatkan pujian.

Masalahnya adalah kesombongan, dan kesombongan itu memabukkan. Dan rasa sehabis mabuknya itu tak terelakkan. Kita ini manusia, kita punya banyak keterbatasan, kita harus bersandar kepada Allah. Ketika kita kehilangan pandangan atas identitas kita dan mulai menderita amnesia rohani, kita sering merasa seperti tenggelam dalam emosi kita sendiri. Dan bukan hanya badai kemarahan dan kesombongan yang dapat menjungkirbalikkan kita. Di permukaan, kita bisa saja tampil tenang dan terkendali, bahkan ketika pasang surut emosi menarik kita ke dasar keputusasaan yang dalam.

Jika kita ingin mengalahkan kesombongan, maka kita harus tetap rendah hati dan bergantung kepada Allah. Ketika kita melawan kesombongan, kita bertumbuh dalam kerendahan hati.

Dalam hal apakah Allah mau Anda bertumbuh dalam kerendahan hati hari ini?

DOA KEKUATAN

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengingatkanku bahwa aku tidak memiliki apapun selain Engkau. Biarlah segala yang aku kerjakan membawa kemuliaan bagi namaMu, bukan namaku.

From “Daily Power: 365 Days of Fuel for Your Soul” by Craig Groeschel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top