Tuhan yang Berperang

Sabtu, 4 Juni 2022

Bacaan : Keluaran 14 : 13-18

TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Keluaran 14:14)

Saya sudah belajar berkelahi dari kelas 2 SD. Suatu hari ketika saya jalan kaki pulang sekolah, saya menjadi sasaran utama perundung (bully) di sekolah. Secara teknis, Bo Talbot hanyalah setahun lebih tua dari saya, tetapi saya curiga mungkin orang tuanya mengambil dia dari sekolah dan memasukkan dia ke pelatihan UFC (kejuaraan gulat profesional) selama beberapa tahun.

Bo mencengkeram baju saya dengan satu tangan, mengepalkan tangan yang satunya, dan menggeram kepada saya, “Groeschel, apa kamu ini gay?”

Nah, karena waktu itu adalah tahun 1975 dan saya baru berumur 8 tahun, saya tidak begitu yakin apa itu artinya “gay”, maka saya menjawab terbata-bata, “A-a-aku tidak yakin. B-b-boleh aku jawabnya besok?”

Ternyata kebenaran bisa menjadi senjata yang menakjubkan. Bo kelihatan agak kaget dan berkata, “Yah, oke. Tapi sebaiknya kamu kasih tahu saya besok ya!” Bahaya terhindarkan—setidaknya sampai esok hari.

Sesampainya di rumah saya tidak menceritakan kepada ibu saya kalau saya dicegat oleh Bo, tetapi saya bertanya kepada ibu, “Ma, apa sih artinya ‘gay’?”

“Sayang,” ia menjawab dengan tenang, “Gay itu artinya . . . senang.”

Jawaban itu sangat masuk di akal anak-kelas-dua-SD yang naif seperti saya, meskipun rasanya aneh pertanyaan seperti itu diajukan oleh seorang perundung seperti Bo. Keesokan harinya waktu pulang sekolah, Bo kembali memojokkan saya. Dan seperti pemain sinetron yang syuting ulang, ia kembali menanyakan pertanyaan menentukan itu: “Craig, apakah kamu gay?”

Saya menyeringai lebar, bangga karena merasa tahu jawabannya. “Tentu saja. Aku gay sepanjang hidupku. Mungkin aku ini orang paling gay yang pernah kamu temui!”

Saya tidak terlalu ingat apa yang terjadi setelah itu. Itu adalah perkelahian pertama saya, dan saya bahkan tidak mendapat kesempatan sekali pun untuk memukul. Dipukuli tentu saja adalah hal yang buruk. Dipukuli karena menjadi orang yang “senang” pastinya lebih buruk.

Apakah Anda sedang menghadapi peperangan rohani? Bersyukurlah, Anda tidak harus menghadapinya sendirian. Tuhan akan berperang bagi Anda.

DOA KEKUATAN

Ya Tuhan, terima kasih Engkau telah menguatkan aku untuk menghadapi peperangan di hadapanku hari ini.

From “Daily Power: 365 Days of Fuel for Your Soul” by Craig Groeschel

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top