Rabu, 10 Februari 2021
Bacaan : 1 Petrus 4 : 7-11
Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. (Mazmur 24:1)
Kita dilahirkan dengan mentalitas “Milikku!”. Barang-barang kita, uang kita, bakat kita, riwayat kita, status kita sebagai manusia . . . semua itu membentuk identitas kita.
Tetapi Allah memberikan kita identitas baru di dalam Kristus. Sekarang kita adalah milikNya. Kita adalah pengelola dari kepunyaanNya. Jadi waktu Anda, uang Anda, semua sumber daya Anda, bahkan kisah hidup Anda—adalah kepunyaan Allah, kawan.
Hidup dengan pemahaman ini membutuhkan keberanian karena secara alami kita ingin mengklaim semuanya—punyaku, punyaku, punyaku! Kita menginginkan penghargaan dan kendali dari hal-hal baik yang terjadi dalam hidup kita, dan kita ingin memutuskan bagaimana kita hidup berdasarkan apa yang kita inginkan.
Hidup untuk diri sendiri? Itu mudah. Hidup seperti segala yang Anda miliki adalah kepunyaan Tuhan (karena memang demikian adanya)? Itu berani.
Saya tidak pernah menulis tentang kehidupan lajang saya untuk waktu yang cukup lama. Dan sejujurnya, saya seringkali merasa dorongan untuk tidak membicarakannya. Itu pasti lebih mudah. Saya tidak perlu menceritakan beberapa hal memalukan atau kisah pribadi yang menyedihkan yang bisa Anda baca dalam buku saya, banyak yang terjadi dalam status lajang yang saya bawa setiap hari. Tetapi semakin saya mau berserah kepada suara Allah yang memberi tahu saya supaya memakai kisah hidup saya untuk menguatkan orang lain, saya tahu ini terkadang pasti akan menyakitkan. Dan saya tidak cukup kuat untuk menulis hal ini.
Hidup untuk diri sendiri? Itu mudah. Hidup seperti segala yang Anda miliki adalah kepunyaan Tuhan (karena memang demikian adanya)? Itu berani.
Tetapi saya terus menulis. Kenyataannya, saya melakukan ini bukan dengan kekuatan saya sendiri. Percayalah. Annie yang di dalam adalah anak cengeng yang memohon untuk berhenti dan pergi dan. Menyerah.
Ini adalah karena Tuhan yang di dalam saya, dengan lembut meminta apakah saya bersedia cukup berani untuk Anda semua dan membagikan kisah hidup saya ini, kisah yang adalah milikNya, seperti halnya saya meminta Anda supaya menjadi berani untuk orang lain.
Kalau ini adalah waktunya bagi saya untuk berbicara tentang kehidupan lajang, maka ini adalah waktu yang akan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan dan membawa kebaikan bagi kita.
Jadi apakah penerapannya untuk Anda? Apakah Anda terlalu takut untuk membagikan kesaksian pertobatan Anda karena Anda tidak mau dosa rahasia Anda terbongkar? Apakah Anda terlalu takut untuk memberi karena Anda takut kalau Anda akan tidak cukup mempunyai apa yang Anda “perlukan” untuk melakukan apa yang Anda inginkan?
Segala yang kita miliki adalah kepunyaan Tuhan. Allah telah begitu murah hati kepada Anda. Bahkan ketika Anda merasa tidak puas atau terluka atau melalui masa pergumulan, apakah Anda cukup berani untuk mempercayai bahwa Allah telah begitu murah hati kepada Anda bahkan meskipun Anda tidak mempunyai segala sesuatu yang Anda inginkan?
Tuhan yang punya, kawan. Semua adalah milikNya. Jadilah berani untuk mengelola segala sesuatu yang Anda miliki dengan cara yang menunjukkan kemurahan Allah yang besar.
JADILAH BERANI: Buatlah daftar semua karunia yang Tuhan percayakan untuk Anda kelola—waktu, uang, dan seterusnya. Tidak ada jumlah yang terlalu sedikit. Lihatlah semua yang Anda punya yang bisa Anda persembahkan bagi dunia!
From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

