Minggu, 7 Februari 2021
Bacaan : Matius 22 : 34-40
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40)
Pada masa SMA pikiran saya penuh dengan bisikan jahat bahwa saya ini jelek, betapa saya butuh berubah, dan bagaimana Allah telah melakukan kesalahan ketika Ia menciptakan saya. Pada waktu itu saya tidak tahu bahwa saya bisa menyebut bisikan-bisikan itu sebagai “dusta”, jadi saya membiarkan kebohongan itu berakar dan bertumbuh sampai merebak menutupi jiwa saya. Dan saya hidup seperti itu, dalam rasa benci terhadap diri sendiri, selama bertahun-tahun.
Suatu kali di masa SMA, ibu saya mengantar saya pulang dari latihan bola dan menanyakan pertanyaan penting kepada saya: “Menurutmu bagaimana kamu bisa mengasihi teman-temanmu kalau kamu tidak mengasihi dirimu sendiri?”
Saya bingung. Siapa yang peduli kalau saya mengasihi diri sendiri? Pikir saya. Saya ingat waktu itu saya merasa ibu saya tidak mengerti apa yang ia bicarakan. (Anak remaja memang merasa paling tahu).
Ibu saya tidak memaksa saya, ia hanya membiarkan saya merenungkan pertanyaan itu. Saya tidak tahu apakah saya menjawabnya saat itu. Kalau ya, pasti jawabannya semacam kegelisahan anak remaja, seperti, “Ehm, Ma, Mama gak ngerti aku sayang banget sama teman-temanku dan aku mengasihi Tuhan dan itu yang paling penting.” Dan mungkin saya akan turun dari mobil dan membawa kaos bola saya yang basah, duduk di sofa yang nyaman, dan menunggu ibu saya memasak makan malam untuk keluarga kami. (Yang saya katakan adalah, saya adalah anak remaja yang manis dan tidak aneh-aneh).
Percakapan itu berbekas dalam ingatan saya selama bertahun-tahun. Dan saya tumbuh dewasa, dan Tuhan menyelamatkan saya dari semua dusta tersebut dan mengajar saya bagaimana berjuang untuk kebenaran, saya menyadari bahwa ibu saya memang benar.
Sementara kita bisa mengasihi orang lain sampai pada tingkat tertentu bahkan ketika kita tenggelam dalam rasa benci pada diri sendiri, ada kemerdekaan dalam kasih yang datang dari hukum kasih yang kedua.
Mengasihi seseorang berarti percaya kepadanya. Ketika seseorang percaya kepada Anda, itu mengubah segalanya—bagaimana Anda membawa diri, bagaimana Anda memperlakukan orang lain, bagaimana Anda hidup hari demi hari. Anda bisa memberikan hadiah yang sama seperti itu kepada orang-orang di sekeliling Anda.
Anda harus mengasihi diri sendiri untuk bisa mengasihi orang lain.
Ibu saya benar: kamu harus mengasihi dirimu sendiri untuk bisa mengasihi orang lain. Yesus sendiri mengatakannya—kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Ini sesuatu yang layak untuk direnungkan.
Jika Anda bersikap berani dan jika Anda benar-benar mengejar kesehatan, Anda tumbuh mengasihi diri Anda sendiri dan dari situ Anda bisa mengasihi orang lain. Orang yang sehat dan berani mengasihi orang lain.
Apakah Anda mengasihi diri Anda sendiri? Apakah Anda melihat diri Anda sebagaimana Allah melihat Anda? Apakah Anda menyadari betapa Anda dikasihi? Karena jika Anda menyadarinya, ketika Anda melihat semua kebenaran itu, Anda pasti bisa mengasihi sesama Anda.
JADILAH BERANI: Melihat judul renungan hari ini— “Orang yang Sehat Memikirkan Orang Lain” —dan itu karena mereka mengasihi diri mereka lebih dulu sehingga mereka bisa mengasihi orang lain. Renungkanlah hal ini dan tulislah dalam jurnal Anda: Apakah hidup Anda dan hubungan Anda akan berbeda jika Anda menghidupi kebenaran ini? Bahwa mengasihi orang lain adalah luapan dari kasih Allah kepada Anda dan kasih Anda kepada diri sendiri?
From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

