Menghadapi Rasa Sakit

Minggu, 24 Januari 2021

Bacaan : Mazmur 139 : 7-18

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (Mazmur 23:4)

Sudah bertahun-tahun saya lalui dengan bergumul dan berusaha menghadapi kebohongan-kebohongan yang berbicara dalam pikiran saya tentang bagaimana Allah menciptakan saya dan siapa jati diri saya dan bagaimana penampilan saya. Ini selalu menjadi hal yang berat bagi saya.

Tetapi itu tidak berarti saya tidak bergumul lagi. Saya adalah seorang Enneagram Tipe Tujuh (salah satu metode untuk mengetahui tipe kepribadian) —saya orang yang inginnya lari dari rasa sakit saya. Itu adalah kecenderungan alami saya. Berperang atau terbang, dan saya akan memilih untuk mengembangkan sayap saya.

Kebohongan-kebohongan itu masih terus datang. Kadang-kadang ia berbisik ketika saya sedang berjalan naik ke panggung, kadang-kadang ia melintas ketika saya melihat foto diri saya, dan lain waktu, mereka berteriak. Mereka berteriak dalam cara yang tidak dapat saya gambarkan—terus-menerus, dan vulgar, dan kasar.

Dan ketika kebohongan-kebohongan itu bersuara keras dalam benak saya—perkataan yang dengan menyakitkan berkata saya jelek, rusak, tidak dapat diselamatkan, mengecewakan, dan seterusnya—langkah pertama, yang telah saya pelajari ialah, mengundang kebenaran untuk masuk. Jadi saya berdiri, atau duduk, atau berbaring di situ, dan saya mengatakan hal-hal yang merupakan kebenaran.

Allah menciptakan saya dengan suatu tujuan.

Allah mengasihi saya tanpa syarat.

Allah tidak menjadikan saya jelek.

Ayat-ayat Alkitab banyak berbicara tentang siapa diri saya, bagaimana saya diciptakan dengan sempurna, dan bagaimana saya berharga bagi Allah.

Dan ulangi itu lagi, lagi, lagi.

Ketika ada orang lain yang tahu, itu rasanya lebih baik.

Saya berbicara kepada konselor saya minggu ini—saya menceritakan tentang kebohongan itu kepadanya, kebohongan yang akhir-akhir ini sering berteriak kepada saya. Saya memberitahu dia di mana saya mendengarnya dan siapa saja yang ada di sana dan baju serta asesoris apa yang saya pakai sedetil-detilnya. Ketika ada orang lain yang tahu, itu rasanya lebih baik.

Itu lebih baik karena ketika Anda mengatakan sesuatu dengan keras, berarti Anda sedang menghadapinya. Dan itu adalah keberanian. Menceritakan rasa sakit Anda kepada orang lain—entah itu kebohongan yang ditanamkan oleh si jahat dalam pikiran Anda atau kondisi yang sangat berat yang sedang Anda hadapi—itu adalah sikap yang berani.

Ketika Anda menghadapi rasa sakit—pandanglah itu dan sebutkanlah—Anda akan mulai mengalami kesembuhan. Bagaimana dengan menyingkirkan rasa sakit atau berusaha mengabaikannya? Itu bukan keberanian. Itu tidak sehat. Dan menyembunyikan hal itu tidak akan membawa kesembuhan.

Hadapi rasa sakit Anda. Bawalah kepada Tuhan. Bawalah kepada konselor Anda. Bawalah kepada orang yang dapat Anda percaya dan temukan kesembuhan di sana.

JADILAH BERANI: Apakah Anda sedang merasa sakit atau terluka? Jangan lagi berusaha lari dari hal itu.

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top