Orang yang Berani Membutuhkan Orang Lain

Minggu, 3 Januari 2021

Bacaan : Pengkhotbah 4 : 7-12

Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik. Kalau yang seorang jatuh yang lain dapat menolongnya. Tetapi kalau seorang jatuh, padahal ia sendirian, celakalah dia, karena tidak ada yang dapat menolongnya. (Pengkhotbah 4:9-10—BIMK)

Pada suatu hari tanggal 4 Juli (hari kemerdekaan Amerika Serikat), waktu itu tepat satu minggu sebelum saya pindah dari Nashville ke Edinburgh, Skotlandia. Saya sangat sedih akan meninggalkan komunitas saya. Saya tahu Tuhan telah berbicara untuk saya pergi ke Edinburgh. Saya hanya merasa sedih meninggalkan orang-orang terdekat saya.

Jadi pada hari yang cerah di bulan Juli itu, tim kami menghabiskan waktu berperahu di Sungai Buffalo. Kami tertawa melihat teman-teman yang tergelincir dari perahu karena arus deras, dan kami juga membawa cukup banyak bekal yang bisa dimakan sampai ke Florida tanpa bakal merasa kelaparan atau kehausan. Lalu hujan mulai turun, dan kami tertawa melihat barang-barang yang kami perjuangkan untuk tetap kering sekarang terendam air. Itu adalah hari penuh kenangan, yang bakal Anda ceritakan kepada anak cucu Anda.

Kami kembali tepat waktunya untuk membersihkan diri dan berkumpul kembali untuk melihat pertunjukan kembang api. Dalam perjalanan menuju tempat parkir agar dapat melihat kembang api lebih jelas, kami menikmati kebersamaan yang indah itu. Di sebelah kiri saya, Curt—manajer produksi dari band lokal dan salah seorang yang saya kenal paling bertanggung jawab dan paling baik dalam hidup saya. Di sebelah kanan saya, Lyndsay—seorang penulis hebat dan salah satu sahabat saya.

Saat air mata mulai menggenang di pelupuk mata saya, saya menyelipkan tangan kiri saya melalui siku kanan Curt dan menggandengnya. Kami tersenyum. Air mata menetes perlahan di pipi saya. Kalau saja ada cara untuk menghentikannya, saya tidak tahu dan tidak terpikirkan di kepala saya. Saya berkata kepada Lynds, “Pegang tanganku.” Dan kami bertiga berjalan, ditautkan dalam kesedihan saya, dan menyaksikan pertunjukan kembang api.

Saya tahu dengan sepenuh hati saya bahwa Allah menghendaki saya untuk pindah, tetapi saya meratap akan meninggalkan orang-orang terdekat saya. Sesedih itu bagian hidup saya, saya tidak akan mau menukarkannya dengan apapun.

Lebih mudah menjalin hubungan dengan playlist Netflix Anda. Mengapa? Karena Anda tidak perlu mengucapkan selamat tinggal yang menyakitkan. Anda tidak mempunyai gesekan dengan film-film Netflix Anda. Jika Anda tidak menyukai filmnya, Anda tidak perlu menontonnya. Tetapi persahabatan itu membutuhkan usaha. Persahabatan membutuhkan keberanian.

Kita semua membutuhkan orang lain. Anda harus cukup berani dan mengijinkan diri Anda mengasihi orang lain. Dan untuk membuat keputusan yang berani, Anda harus mendapatkan dukungan dari pertemanan terdekat Anda itu.

Persahabatan membutuhkan usaha. Persahabatan membutuhkan keberanian.

JADILAH BERANI: Tulislah surat untuk seorang teman yang selalu Anda untuk Anda. Ucapkan terima kasih kepadanya. Katakanlah kepada teman Anda betapa berartinya dia bagi Anda.

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top