Minggu, 6 Desember 2020
Bacaan : Yesaya 43 : 1-7
Engkau akan memenuhi janji-Mu kepadaku; janganlah berhenti bertindak bagi umat-Mu. (Mazmur 138:8—BIMK)
Saya menyukai pemikiran bahwa Allah menciptakan saya hanya sekali saja. Seperti sebuah lukisan—ada sesuatu yang istimewa dari hal yang pertama kali. Joe, sepupu saya, meninggal dunia beberapa waktu yang lalu. Selama hidup saya, saya mengenalnya sebagai seorang pelukis. Seorang seniman. Rumah saya penuh dengan lukisan dan sketsa dan ilustrasi yang dibuatnya hanya untuk saya. Bahkan, salah satu lukisannya saya pajang dengan bangga di ruang makan saya. Itu adalah lukisan abstrak yang besar berwarna ungu dan biru dan hitam dan aneh. Saya menyukainya. Beberapa tahun yang lalu, saya bertanya kepada Joe bagaimana proses replikasi karya seni dibandingkan lukisan yang asli.
Jawaban singkat yang ia berikan adalah karya yang asli itu butuh usaha, tapi menyenangkan. Salinan atau duplikat apapun, yang persis sama maupun dimodifikasi, itu membosankan dan tak berarti. Proses penciptaan itu hanyalah cara mengatasi masalah, dan begitu Anda mengatasi masalah aslinya, maka seperti Anda bisa melatih seekor monyet yang cerdas untuk melakukan replikasinya. (Ungkapan itu. “Monyet cerdas.” Ah, saya kangen Joe). Pertanyaannya bukanlah seperti meminta seorang chef untuk membuat sup bawang Perancis paling istimewa di dunia, dan setelah ia berhasil menciptakan resepnya di luar ekspektasi, ia harus terus membuatnya setiap hari.
Allah menciptakan Anda hanya sekali. Hasilnya sepadan dengan usaha menciptakan untuk pertama kalinya. Dan setelah itu Dia membuang adonannya karena satu diri Anda sudah cukup bagiNya. Anda cukup. Anda adalah lukisan keramat, yang asli.
Allah menciptakan kita seperti ini untuk suatu tujuan. Tidak ada kesalahan ketika kita dibentuk sebagaimana adanya diri kita. Tetapi mengapa? Mengapa Allah menciptakan manusia dari mulanya?
Lihatlah Yesaya 43:7 : “semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”
Allah menjadikan kita untuk kemuliaanNya. Mari kita lihat sedikit pelajaran dari Perjanjian Lama. Kata asli menciptakan dalam bahasa Ibrani adalah bara. Ketika kata tertentu ini digunakan, Allah adalah satu-satunya subyek—Ia yang melakukan semua pekerjaan. Hanya Dia yang sanggup menciptakan dengan cara tersebut. Mungkin kita bisa menciptakan sebuah lukisan atau membuat kekacauan, tetapi sebagai manusia, kita tidak bisa bara. Jadi ketika Allah menjadikan Anda, Ia melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan olehNya, dan Ia melakukan itu untuk kemuliaanNya.
Jika setiap kita seunik apa yang dikatakan dalam Alkitab, maka panggilan masing-masing kita untuk menjadi berani pun unik.
Pelajaran singkat bahasa Ibrani ini ada tujuannya. Kita melihat ke bahasa asli dari teks tersebut untuk melihat, menurut Alkitab, bahwa kita diciptakan secara istimewa oleh Allah untuk mengagungkan Dia, memuliakan Dia, dan menyembah Dia.
Jadi apa hubungannya hal ini dengan menjadi berani?
Jika setiap kita seunik apa yang dikatakan dalam Alkitab, maka panggilan masing-masing kita untuk menjadi berani pun unik.
Setiap kita harus menjadi berani menurut cara kita masing-masing. Lukisan hidup Anda adalah sebuah mahakarya yang tidak akan pernah direplikasi, dan ada sebuah kuas keberanian yang dipakai dalam lukisan ini yang akan mengubah segala sesuatu bagi kemuliaan Tuhan dan bagi kebaikan Anda. Mungkin Anda ingin pergi ke luar negeri untuk tinggal di sana dan memberitakan tentang Yesus. Kawan, itu memang hal yang berani. Sungguh. Tetapi sama halnya dengan menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Juga menjadi teknisi kabel. Atau menjadi seorang penulis atau pemain baseball atau seorang chef. Keberanian itu berbeda-beda untuk setiap kita.
Allah menciptakan Anda untuk suatu tujuan dan secara unik. Allah telah memanggil Anda untuk menjadi berani. Dan Ia akan memperlengkapi Anda untuk melakukannya.
JADILAH BERANI : Dalam jurnal atau catatan Anda, tuliskanlah beberapa hal bahwa hidup Anda itu unik. Hal apa yang Anda sukai? Bagaimana Anda senang menghabiskan waktu Anda? Dalam hal apa Anda melihat hidup Anda berbeda dengan orang lain?
From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

