Kasih yang Terlahir

Rabu, 18 November 2020

Bacaan :  Kolose 4 : 12-17

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1 Yohanes 4:20)

Mungkin Anda pernah mendengar ungkapan, Allah itu nomor satu, keluarga nomor dua, dan gereja nomor tiga… Daftar tidak resmi itu penting karena meletakkan garis besar beberapa prioritas dalam kehidupan seorang Kristen yang mengalami kebingungan selama bertahun-tahun. Saya tahu banyak tragedi di dalam keluarga pendeta karena mereka mengabaikan prinsip hidup Kerajaan Allah ini. Namun sebagus apapun daftar ini, saya tidak percaya hal ini secara teknis akurat. Jika Allah nomor satu, maka tidak ada nomor dua.

Melalui kasih saya kepada Allah saya memberikan diri saya kepada istri dan anak-anak saya. Hal itu tidak terpisah dari Tuhan, melainkan bagi Dia. Bukan berarti bahwa saya tidak bisa mengasihi istri saya tanpa mengasihi Allah—banyak orang tidak percaya melakukan itu dengan baik. Tetapi dengan mengenal dan mengasihi Allah, saya dilepaskan untuk mengalami takaran kasih secara super natural yang tidak mungkin diperoleh terlepas dari Allah. Karena kasih saya kepada Yesus, saya mengasihi Gereja sebagaimana saya lakukan. Kasih saya kepada Allah adalah kasih saya bagi kehidupan. Kedua hal itu tidak bisa dipisahkan. Mengasihi keluarga, gereja, dan pelayanan saya merupakan ekspresi kasih saya kepada Allah, Allah menjadi nomor satu, satu-satunya nomor satu.

Agama merusak proses ini karena menyiratkan bahwa hanya kegiatan yang jelas rohani adalah kegiatan yang berkenan sebagai pelayanan kepada Allah dan bahwa apapun yang tidak berkaitan dengan pembacaan Alkitab, kesaksian, kehadiran di gereja, dsb, bukan pelayanan Kristen yang sejati. Agama membawa kita kembali pada konsep bagian kehidupan Kristen rohani dan sekuler. Orang yang menjalani kehidupan ganda ini membutuhkan daftar prioritas untuk bertahan hidup; jika tidak mereka tidak akan memperhatikan masalah penting lainnya. Konsep mereka tentang Allah tidak mengijinkan mereka untuk sungguh-sungguh memiliki gairah untuk sesuatu yang tidak dipandang sebagai  bidang Kristen.

Kita harus mengalami perubahan dalam pola pikir yang memampukan kita untuk menyadari bahwa kasih kepada Allah melahirkan kasih kepada hal-hal lainnya. Dan hal-hal lain itulah yang sering harus dikejar demi kasih kepada Tuhan. Kita seharusnya tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang bersaing, atau terpisah dari ibadah kita kepada Allah. 1 Yohanes 4:20 mengatakan bahwa jika kita mengasihi Allah, hal itu bisa diukur melalui kasih kita kepada orang lain. Ini merupakan prinsip mutlak yang difirmankan Allah, jika kita tidak mengasihi orang lain, kita sesungguhnya tidak mengasihi Dia. Intinya adalah: dengan mengasihi Allah, kasih kepada hal-hal lain akan muncul. Sering kali dengan memberikan diri kita sendiri kepada hal-hal itu kita bisa membuktikan dan mewujudkan kasih kita kepada Allah.

From “Dreaming with God” by Bill Johnson

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top