Sabtu, 7 November 2020
Bacaan : Markus 10 : 35-45
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45)
Kita telah diberi otoritas di bumi. Kuasa tersebut pertama-tama diberikan kepada kita melalui amanat yang diberikan Allah kepada umat manusia dalam kitab Kejadian (lihat Kej 1:28-29), dan kemudian dipulihkan bagi kita melalui Yesus setelah kebangkitanNya (lihat Mat 28:18). Tetapi otoritas Kerajaan Allah berbeda dari apa yang dipahami oleh banyak orang percaya. Ini adalah kuasa untuk membebaskan manusia dari siksaan dan penyakit, menghancurkan pekerjaan kuasa kegelapan. Ini juga merupakan kuasa untuk memindahkan sumber daya Surgawi melalui ekspresi kreatif untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ini adalah kuasa untuk mendatangkan surga di bumi. Ini adalah kuasa untuk melayani.
Seperti halnya prinsip-prinsip tentang Kerajaan Allah lainnya, kebenaran tentang kuasa dan otoritas manusia ini sangat berbahaya jika berada di tangan orang yang ingin memerintah orang lain. Konsep ini nampaknya membenarkan sikap egois beberapa orang. Tetapi jika kebenaran ini diekspresikan melalui hamba Tuhan yang rendah hati, maka itu akan mengguncang dunia. Menjadi hamba bagi dunia ini merupakan kunci untuk membuka puntu-pintu kesempatan yang pada umumnya dianggap tertutup atau terlarang.
Pemahaman kita tentang hamba atau raja tidak mampu menolong kita untuk menghadapi tantangan ini karena pengertian tentang kedua hal itu telah dirusak dalam dunia kita, yang mungkin tidak bisa diperbaiki. Di sanalah Yesus muncul. Ia adalah Raja di atas segala raja, namun juga Hamba bagi semua. Kombinasi yang unik yang ditemukan dalam diri Anak Allah merupakan panggilan jaman ini bagi kita. Karena kebenaran biasanya ditemukan di antara dua kenyataan yang bertentangan, kita punya masalah yang harus diluruskan. Seperti halnya Tuan kita, kita adalah raja dan sekaligus hamba (lihat Why 1:5; Mrk 10:45). Salomo memperingatkan tentang problem yang mungkin timbul dengan mengatakan, “Karena tiga hal bumi tidak dapat tahan: karena seorang hamba, kalau ia menjadi raja” (Ams 30:21-22). Namun Yesus bertentangan dengan peringatan Salomo tanpa membatalkan pernyataan tersebut, dengan tetap bekerja efektif dalam kedua hal tersebut. Yesus melayani dengan hati seorang raja, tetapi memerintah dengan hati seorang hamba. Ini merupakan kombinasi yang esensial yang harus diterima dengan antusias oleh semua orang yang rindu membentuk arah sejarah.
Identitas saya adalah seorang raja. Pelayanan adalah tugas saya. Keakraban dengan Allah adalah sumber hidup saya. Jadi, di depan Allah, saya adalah sahabat akrabNya. Di hadapan orang-orang, saya adalah hambaNya. Di hadapan kuasa neraka, saya adalah penguasa, tanpa toleransi atas pengaruhnya. Hikmat membuat kita tahu peranan mana yang harus dimainkan pada waktu yang tepat.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

