Rabu, 4 November 2020
Bacaan : 2 Petrus 1 : 16-21
Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. (1 Tesalonika 5:19-20)
Allah sangat setia untuk menaruh orang-orang dengan karunia nubuat dalam hidup saya pada saat yang benar-benar tepat—orang-orang dengan integritas tinggi. Oleh sebab itu, kami memiliki budaya nubuat yang kuat. Untuk mendorong agar orang-orang yang memiliki karunia nubuat berani mengambil resiko untuk bernubuat, kami menekankan tanggung jawab pada pihak pendengar untuk membedakan apakah suatu firman berasal dari Allah atau bukan. Pada jaman Perjanjian Lama Roh Allah hanya berdiam dalam diri nabi saja, jadi dia memikul semua tanggung jawab. Pada masa kini Roh Tuhan ada dalam diri setiap orang percaya, jadi sekarang tanggung jawab diberikan kepada umat Allah untuk mengenali apakan pesan tertentu berasal dari Allah atau bukan. Jika pesan tersebut berasal dari Allah, kita memberikan respon sesuai dengan petunjuk yang diberikan dalam firman. Jika itu bukan dari Allah, kita berusaha belajar darinya dan mempertajam keterampilan profetik kita.
Nubuat datang kepada kita dari orang lain. Cara ini bisa menjadi bentuk mendengar dari Allah yang sangat berisiko, namun juga bisa menjadi salah satu sarana yang paling dramatis dan membangun iman. Jika satu nubuat telah diteguhkan berasal dari Allah, kita harus bertindak sesuai dengan petunjuk nubuat itu.
Kris Vallotton bernubuat atas saya pada suatu hari Minggu pagi dan berkata bahwa Allah akan mendukung saya secara publik dengan menyediakan seluruh jumlah uang yang dibutuhkan untuk membangun rumah doa melalui satu kali persembahan. Nubuat itu disampaikan tepat pada saat kami merasa kami harus memaparkan proyek itu dan menindaklanjuti presentasi itu dengan menerima persembahan. Secara alamiah, ini merupakan saat terburuk untuk mengharapkan persembahan besar karena saat itu merupakan akhir dari perpindahan besar-besaran—titik terendah jumlah anggota gereja kami. Jumlah yang dibutuhkan untuk membangun rumah doa merupakan jumlah yang mustahil dicapai dalam satu kebaktian untuk gereja kami, bahkan sebelum begitu banyak orang meninggalkan gereja kami. Pada akhir kebaktian, akuntan publik kami menghitung persembahan dan kami mengumumkan kepada seluruh jemaat bahwa kami persembahan yang terkumpul telah melampaui target yang kami tentukan dengan kelebihan sekitar $8 dan beberapa sen (kurang lebih Rp 120 ribu).
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

