Kamis, 22 Oktober 2020
Bacaan : Lukas 1 : 26-38
Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Lukas 1:38)
Maria, ibu Yesus, hidup dengan rahasia dengan cara yang paling mencolok. Ia mengalami kebangunan rohani lebih dari siapa pun, karena Yesus adalah personifikasi kebangunan rohani. Maria diberi rahasia teragung—baik dalam perkataan maupun pengalaman.
Maria melahirkan bayi Kristus seperti dinyatakan oleh Malaikat Gabriel. Hal-hal yang dikatakan oleh orang-orang yang mengenal rencana dan keilahian Yesus ia renungkan dalam hatinya. Kata semua itu dalam kisah ini merupakan kata “rhema” dalam bahasa aslinya, yang artinya firman yang baru saja diucapkan oleh Allah. Ia merenungkan hal-hal yang diucapkan Allah kepadanya, meskipun ia tidak memahami hal itu. Perenungan yang ia lakukan memberikan tempat kepada benih-benih firman Allah untuk berakar dan bertumbuh sampai janji itu menjadi kenyataan. Firman Allah bertumbuh dalam hati orang yang berserah.
Perjumpaannya dengan rahasia bisa diringkas sedemikian:
1. Sebagai gadis muda Maria mengalami perjumpaan dengan malaikat Gabriel.
2. Gabriel memberikan perkataan kepada Maria yang tidak dapat ia pahami; ia akan melahirkan Mesias sementara ia masih tetap perawan—pengalaman yang belum pernah terjadi secara Alkitabiah.
3. Ia berserah pada apa yang melampaui pemahamannya dengan berkata, “Terjadilah kepadaku sesuai dengan perkataanMu.”
4. Maria hampir kehilangan Yusuf, tunangannya, karena menyampaikan berita bahwa “Allah membuatku mengandung.” Seorang malaikat mendatangi Yusuf untuk meyakinkan dia bahwa hal itu benar, dengan demikian menyelamatkan pernikahan mereka. Ia mulai “bermanifestasi” di bawah pengaruh kebangunan rohani terbesar— yaitu Yesus sendiri. (Anda hanya bisa menyembunyikan realitas kehamilan/kebangunan rohani dalam jangka waktu yang selama itu saja).
5. Orang yang tahu bahwa anaknya adalah Mesias akan mengatakan kepadanya tentang kebesaran Allah, Ia merenungkan hal-hal yang mereka katakan dalam hatinya, jadi ia menjadi hamil lagi—kali ini dengan janji.
Intinya, kisah Maria yang indah diulang setiap kali kita mengandung janji firman Allah. Kristus masih sedang dibentuk dalam diri umatNya. Realitas rohani ini jangan dianggap lebih rendah dari pada realitas alami yang dialami Maria. Dalam cara apa pun saya tidak berusaha tidak menghormati Maria. Ia masih dipandang “orang yang paling berkenan kepada Allah” untuk selamanya. Saya hanya ingin meningkatkan sikap hormat terhadap karya Roh Allah dalam hati setiap orang.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

