Cara Kita Belajar

Sabtu, 17 Oktober 2020

Bacaan :  Mazmur 119 : 27-40

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:29)

Saya tidak pernah lupa ketika Allah pertama kali mulai menyingkapkan Alkitab kepada saya. Ketika saya membaca, hati saya melompat-lompat dalam diri saya karena melihat kekayaan Alkitab. Namun saya tidak dapat mengajarkan perikop khusus itu jika hidup saya tergantung padanya. Roh saya belajar dan pikiran saya harus menunggu. Pikiran saya terlatih melalui pengalaman perjumpaan dengan Allah dan pengalaman supernatural yang muncul melalui penyataan Alkitab. Penyataan yang tidak menuntun pada perjumpaan dengan Allah hanya akan membuat kita lebih religius, dan mengajar kita untuk menerima standar eksternal tanpa realitas internal.

Allah tidak menentang pikiran. Ia menciptakan pikiran kita untuk melengkapi semua yang telah Ia ciptakan. Tetapi Ia menentang pikiran yang tidak diperbarui. Pikiran yang tidak diperbarui bertentangan dengan Allah, karena tidak mampu menaati Dia (lihat Rm 8:7). Orang percaya yang mengatur hidup kekristenan mereka melalui pikiran adalah orang Kristen kedagingan yang ditegur oleh Paulus (lihat 1 Kor 2-3). Jiwa hanya bisa menuntun pada agama—suatu bentuk tanpa kuasa. Inilah yang menyebabkan terlahirnya Ismael dan bukannya Ishak.

Kita perlu memahami proses belajar itu. Roh kita berada di mana Roh Kudus ada. Roh kita hidup dan sehat dan siap untuk menerima hal-hal besar dari Allah. Ketika saya menyaring segala sesuatu melalui pikiran saya dan segera menyingkirkan apa yang tidak logis, saya melepaskan sebagian besar hal yang sesungguhnya saya butuhkan. Hanya apa yang melampaui pemahaman saya yang ditempatkan untuk memperbarui akal budi saya (lihat Flp 4:7). Jika kita bisa belajar lebih banyak tentang suara yang aktual dan hadirat Tuhan, kita akan berhenti bersikap paranoid karena takut tertipu dengan hal-hal yang tidak bisa kita jelaskan. Banyak orang hanya bergantung pada logika dan penalaran mereka sendiri yang terbatas untuk membuat mereka merasa aman. Namun itu sendiri merupakan penipuan. Mereka biasanya punya penjelasan untuk segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan mereka dengan Tuhan, tetapi mengkritik orang-orang yang ingin melangkah lebih jauh.

Hati kita bisa menerima hal-hal yang tidak dapat diterima kepala kita. Hati kita akan menuntun kita ke tempat yang tidak berani dimasuki oleh logika kita. Tidak seorang pun pernah memandang sifat keberanian muncul dari dalam dan memberikan pengaruh pada pikiran kita. Sama halnya, iman yang sejati mempengaruhi akal budi. Iman tidak muncul dari pemahaman kita. Iman muncul dari hati. Kita tidak percaya karena kita tahu; kita tahu karena kita percaya (lihat Ibr 11:6). Kita akan tahu ketika pikiran kita sungguh-sungguh diperbarui, karena hal yang mustahil akan tampak logis.

From “Dreaming with God” by Bill Johnson

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top