Kamis, 15 Oktober 2020
Bacaan : Matius 13 : 53-58
Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakanNya di situ. (Matius 13:58)
Ketika Yesus sudah waktunya untuk melayani di kota kelahiranNya, Nazaret, Ia pergi ke bait Allah. Ketika Ia mulai mengajar orang banyak, mereka sangat takjub mendengar hikmatNya. Mereka juga sangat terkesan dengan kesembuhan yang mereka lihat. Tetapi ketika mereka menyadari bahwa mereka mengenal Dia, karena telah melihat Ia bertumbuh dewasa, mereka terganggu oleh “penalaran” mereka sendiri. “Dia Yesus. Kita telah mengenal saudara laki-laki dan perempuanNya. Ia bertumbuh dewasa di sini. Bagaimana Dia bisa melakukan hal-hal ini? Dari mana Ia mendapatkan hikmat ini?”
Mereka tidak terprovokasi dalam artian kata tersebut. Perasaan mereka tidak tersinggung; mereka juga tidak mengalami kepahitan. Mereka sekadar tidak dapat menduga kebenaran pesan Yesus dan menyimpulkannya—Yesus menurut pandangan mereka adalah pembuat mujizat dan seorang yang memiliki hikmat yang besar. Mereka tidak merasa takjub dan kagum. Sebaliknya hal itu membuat mereka menjadi keras hati dan menolak Dia. Pertanyaan yang tidak terjawab ini menjadi batu sandungan bagi mental mereka, sehingga menutup pengurapan Yesus untuk melakukan mujizat dan mengajar dengan kuasa. Memiliki pertanyaan adalah hal yang wajar; namun menjadikan Allah sebagai tawanan bagi pertanyaan tersebut, itu tidak sehat. Hal itu kadang-kadang menciptakan atmosfer yang menggenapi nubuat kita sendiri bahwa saat ini kuasa Allah tidak bekerja lagi. Hal itu menutup pengurapan yang akan mengajarkan hal yang sebaliknya kepada mereka.
Tidak tahu, itu tidak apa-apa. Tetapi membatasi kehidupan rohani kita pada apa yang kita pahami itu berbahaya, dan merupakan sikap tidak dewasa. Roh pengontrol semacam ini bersifat menghancurkan bagi perkembangan karakter serupa Kristus. Allah menanggapi iman kita, tetapi Ia tidak akan membiarkan tuntutan kita untuk memegang kendali. Kedewasaan membutuhkan sikap terbuka terhadap apa yang tidak kita pahami sebagai ekspresi iman yang penting.
Hati seseorang akan lebih jelas terlihat dari apa yang bersedia mereka terima tanpa perasaan tersinggung, bukan hanya sekedar ekspresi iman atas apa yang sudah mereka pahami.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

