Selasa, 29 September 2020
Bacaan : Yohanes 8 : 37-47
“Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendakKu sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.” (Yohanes 8:42)
Cara terbaik untuk mengingat arti kata desire (keinginan) adalah dengan membaginya menjadi beberapa suku kata. “De” berarti “dari” dan “sire” berarti “bapa”. Semua keinginan “berasal dari bapa”. Pertanyaannya seharusnya bukan, “apakah keinginan saya berasal dari Bapa?” Pertanyaannya seharusnya adalah, “Dengan apa, dan dengan siapa saya menjalin persekutuan?” Saya bisa bersekutu dengan Allah atau dengan musuh. Jika saya mengambil waktu untuk merenungkan perbuatan orang lain yang menyakiti hati saya beberapa tahun lalu, dan saya mulai bertanya-tanya apakah Allah akan menghakimi orang itu, keinginan balas dendam dan mempertahankan nama baik masih bergejolak dalam hati saya. Mengapa? Karena saya telah bersekutu dengan bapa kepahitan, dan keinginan itu merupakan anak-anak yang terbentuk dalam hati saya.
Jika bersekutu dengan iblis bisa menghasilkan keinginan yang jahat dalam diri kita, bukankah seharusnya bisa dikatakan, bahwa waktu bersama Allah bisa lebih membentuk keinginan dalam diri kita yang berfokus pada kekekalan dan akhirnya mendatangkan kemuliaan bagiNya? Hal yang harus digarisbawahi adalah: keinginan itu tidak ada di sana karena perintah; keinginan itu ada dalam hati kita karena persekutuan kita dengan Allah. Keinginan itu merupakan hasil dari persekutuan kita denganNya.
Banyak orang percaya menyingkirkan keinginan mereka dan secara otomatis berusaha menyingkirkan segala sesuatu yang mereka inginkan dengan tujuan membuktikan penyerahan diri mereka kepada Allah. Sudut pandang mereka yang tidak egois melampaui kehendak Allah dan sesungguhnya menyangkal fakta bahwa Allah adalah Bapa segala impian dan kemampuan yang ada dalam diri mereka. Hal itu kedengaran bagus dari luar karena tampak religius dan tidak egois, tetapi dari dalam hal itu bertentangan dengan rencana Allah. Kebanyakan orang masih belum melihat perbedaan antara masuk ke dalam Kerajaan dengan hidup di dalam Kerajaan. Kita masuk melalui jalan yang lurus dan sempit, yang berkata, “Bukan kehendakku, melainkan kehendakMu yang jadi.” Satu-satunya pintu adalah Kristus Yesus. Satu-satunya jalan untuk menemukan kehidupan dalam Kristus adalah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia.
Tetapi hidup dalam Kerajaan, yaitu melewati pintu masuk keselamatan yang sempit, sama sekali berbeda. Di dalam jauh lebih besar dari pada di luar. Di sinilah kita menemukan Tuhan berkata kepada kita bahwa kita bukan lagi hamba, melainkan sahabat. Dalam konteks inilah Ia berkata bahwa Bapa akan memberi kita apa pun yang kita inginkan. Tekanannya adalah pada apa yang kamu kehendaki. Memang benar bahwa kita tidak boleh melupakan konteks tersebut, sebab jika tidak demikian kita sekedar menciptakan lebih banyak orang egois yang mengaku percaya kepada Kristus. Seperti halnya Salib mendahului kebangkitan, demikian juga penyangkalan diri dan berserah kepada kehendakNya mendahului perhatian Allah terhadap kehendak kita. Tetapi tekanan pada sisi satunya juga berbahaya—jika kita tidak pernah menjadi orang yang punya keinginan, kita tidak akan pernah mewakili Kristus di bumi dengan akurat dan efektif.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

