Selasa, 7 Juli 2020
Bacaan : 1 Samuel 17 : 28-39
Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. (Ayub 23:10)
Pernahkah Anda mengalami rasanya naik roller coaster di Dunia Fantasi atau taman hiburan lainnya? Permainan ini akan memacu adrenalian siapa saja yang menaikinya.
Saya tak akan pernah melupakan pengalaman tersebut. Ketika kami naik tanjakan pertama—klik, klik, klik—sampai mencapai puncak, dan kemudian coaster itu tiba-tiba berhenti, dan saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi? Kemudian BOOM!—bagian bawahnya menukik ke bawah, dan kami meluncur, dan perut saya terkocok-kocok. Sambil berpegangan seerat-eratnya, saya merasa gembira dan antusias dan sejujurnya ketakutan pada saat yang sama. Kami melewati lengkungan pertama, dan roda pada satu sisi keluar jalur. Ketika saya menyadari posisi saya—BOOM!—muncul turunan dan tikungan tajam lainnya. Belokan akan selalu muncul sedemikian cepat. Kami masuk lorong yang gelap sehingga tak bisa melihat apa yang ada di depan, keluar dari lorong, masuk tikungan berikutnya—CIT-CIT-CIT—kami terhempas sampai berhenti di tempat perhentian kembali.
Seperti naik roller-coaster yang berlalu seperti kilat, kehidupan kita di bumi hanya sementara dan terbatas. Tampaknya kita baru saja mulai, kemudian tiba-tiba selesai, waktu berjalan begitu cepat. Tampaknya makin lama Anda mengendarai, makin cepat jalannya. Pengalaman itu membuat pusing, kehilangan orientasi sekaligus mengasyikkan.
Kita sering tergoda untuk menjalani hidup di area aman saja dan puas dengan sesuatu yang jauh lebih rendah dari yang direncanakan. Banyak orang yang hari favoritnya adalah ‘Suatu Hari Nanti’ (someday). Suatu hari nanti, ketika apapun yang kita kejar tercapai, kita akan mulai hidup. Ketika segala sesuatu beres suatu hari ini nanti, kita akan mulai melayani Tuhan. Suatu hari nanti. Setelah. Jika. Kemudian semua berakhir.
Kapan kita akan bangun dan menyadari inilah kehidupan? Suatu hari nanti adalah saat ini. Allah tidak merancang kita untuk sekedar bersikap pasif dan menikmati kehidupan, tetapi untuk mengambil resiko dalam iman dan untuk menaklukkan raksasa yang melumpuhkan kita dengan ketakutan.
Di antara ribuan tentara Israel yang ada, Daud satu-satunya yang memiliki keberanian untuk menghadapi raksasa Goliat. Apa yang dilakukan Daud mungkin nampak bodoh di mata orang-orang. Namun sesungguhnya Daud hidup berdasarkan iman. Jika Anda hidup berdasarkan nalar, semua yang Anda lihat adalah seberapa besar raksasa Anda. Jika Anda hidup dengan iman, semua yang Anda lihat adalah seberapa kecil raksasa Anda dibandingkan Allah yang Mahabesar!
Satu hal yang membedakan Daud dari ribuan orang yang ada di sana saat itu adalah “iman yang polos”. Daud memandang kehidupan pada tingkat sudut pandang Allah. Jika Anda memandang dari sudut pandangNya, raksasa itu sangatlah kecil.
Kehidupan ini sulit diprediksi; Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kadang-kadang Anda membelok dengan tiba-tiba dan berpikir roda kereta Anda keluar jalur. Kadang-kadang Anda masuk ke lorong yang gelap dan tak dapat melihat apa-apa. Namun Allah senantiasa memegang kendali, Dia tahu dengan persis kemana Dia membawa Anda. Meskipun kehidupan Anda tampak sulit dan menakutkan saat ini, Allah ada di sana, mempedulikan Anda jauh melampaui pemahaman atau bayangan Anda. Jika Anda tahu hidup Anda tinggal 1 bulan, tidakkah Anda ingin meninggalkan perjalanan yang aman dan memulai perjalanan yang membuat hati Anda berapi-api? Hadapilah ketakutan Anda dengan iman yang polos dan jalani perjalanan hidup Anda.
PENERAPAN:
1. Jika Anda tahu hidup Anda akan berakhir dalam beberapa minggu, apakah penyesalan terbesar Anda? Mengapa?
2. Dalam bidang hidup manakah Anda menderita Sindrom Suatu Hari Nanti? Buatlah keputusan hari ini untuk tidak lagi menggunakan frase “suatu hari nanti, ketika semua beres”. Sadari bahwa hari ini adalah suatu hari bagi Anda.
From “One Month to Live” by Kerry & Chris Sook

