Minggu, 19 Maret 2023
Bacaan : 1 Petrus 2 : 18-25
Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. (1 Petrus 2:23)
Alasan Anda takut melangkah adalah karena Anda tahu bahwa kemungkinan itu tidak akan berhasil (apakah ini pertanyaan yang meremehkan?) Anda mempunyai riwayat luka yang berseru kepada Anda supaya Anda main aman. Anda akan merasakan sangat dalam jika hal tersebut tidak berjalan dengan baik, jika Anda tidak diterima dengan baik, reaksi orang lain menjadi keputusan dalam hidup Anda, terhadap hati Anda. Anda takut bahwa keraguan Anda yang terdalam akan menjadi kenyataan. Lagi dan lagi. Bahwa Anda akan mendengar lagi pesan dari luka lama Anda, jawaban negatif yang menusuk atas pertanyaan Anda. Itulah sebabnya Anda hanya bisa mengambil risiko melangkah dengan cara tinggal dalam kasih Allah. Ketika Anda percaya keputusanNya dalam hidup Anda—bahwa Anda dipilih dan sangat dikasihi. Maka Anda bebas untuk mempersembahkan diri.
Orang-orang tidak menanggapi kasih Yesus dengan cukup baik, bagaimana Ia telah melangkah dalam iman dan memainkan peranan yang hanya dapat diperankan olehNya. Dan itu akan menjadi pernyataan meremehkan yang konyol. Orang-orang yang untuk mereka Yesus telah mati malah menghina dan mengejek Dia, meludahi Dia, dan kemudian menyalibkan Dia. Yesus harus menaruh kepercayaan yang sangat dalam kepada BapaNya, dengan keberadaanNya sendiri. Petrus memakainya sebagai teladan bagi kita dengan mengatakan, “Ia menyerahkan diriNya” kepada Allah.
Yesus menghidupi kehidupan yang penuh kasih, dan Ia mengundang Anda untuk melakukan hal yang sama. Apapun respon yang akan kita terima.
~***~
Oh Yesus—tunjukkanlah kepadaku di bagian mana aku telah membangun pertahanan diri. Tunjukkanlah kepadaku di mana aku perlu melangkah dengan keberanian, bagaimanapun hasilnya nanti.
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

