Kamis, 2 Februari 2023
Bacaan : Titus 1 : 1-4
Ajaran itu berdasarkan harapan bahwa kita akan menerima hidup sejati dan kekal. … (Titus 1:2—BIMK)
Berdiri di muka jendela saat terjaga di pagi hari, cahaya fajar yang kuning mengubah setiap warna musim gugur menjadi rona yang lebih kaya. Terlihat seperti lukisan—menakjubkan, mistis. Dan untuk sesaat semua itu terasa seperti memberikan janji. Mungkin Anda pernah merasakan janji seperti itu saat Anda berdiri di suatu tempat favorit, memandang keindahan ombak atau duduk di taman dengan secangkir kopi. Sesuatu terus berbisik kepada Anda melalui keindahan pemandangan yang Anda sukai.
“Banyak hal dimulai dengan melihat dunia kita ini,” tulis seniman Inggris, Lilias Trotter. “Kehidupan yang indah dan memungkinkan itu terbentang di hadapan kita.” Saya menikmati saat-saat itu. Tetapi apapun yang memberikan janji seperti itu kepada kita, ia sepertinya lolos dari jemari kita setiap kali kita berusaha meraihnya.
Ada cukup banyak kebaikan yang akan mengangkat hati Anda dengan pengharapan, dan ada cukup banyak kesedihan yang dapat menjatuhkan Anda. Dan ketika yang menyakitkan itu lebih banyak daripada yang membangun, Anda bertanya-tanya apakah Anda seharusnya tidak tinggal diam saja. “Saya menangis ketika saya dilahirkan,” tulis penyair Anglikan, George Herbert, “dan hari-hari menunjukkan alasannya.”
Ya, hidup bisa menjadi begitu indah. Saya adalah pecinta semua keindahan dalam hidup. Namun Anda membutuhkan lebih dari sekedar gambaran keindahan dalam hidup. Jauh lebih, lebih banyak lagi. Anda membutuhkan pengharapan yang tak terpatahkan, yang tak terpadamkan.
~***~
Tuhan Yesus—aku membutuhkan pengharapan yang tak terpadamkan. Tunjukkanlah di mana Engkau membisikkan dalam hatiku melalui hal-hal yang kusukai.
From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

