Sistem Rasa Bersalah

Jumat, 27 Januari 2023

Bacaan : Matius 11 : 28-30

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

Yesus berbicara kepada orang-orang tentang dahaga dan kelegaan. Orang-orang Fasisi menuntut supaya orang menaati hukum agama dan tradisi, menghukum mereka ketika terhuyung-huyung mengangkat beban. Mereka memimpin orang ke arah yang berlawanan dari letak keselamatan mereka—yaitu dengan mengakui keletihan dan kelemahan mereka. Selama mereka mengandalkan kemandirian mereka, mereka tidak akan pernah berseru kepada Tuhan dan menerima pengampunan, kesembuhan, dan pemulihan.

Begitu banyak gereja kontemporer menjalankan sistem rasa bersalah yang sama seperti ini. Ketika jemaat berseru untuk persekutuan dan istirahat, kita menyuruh mereka mengajar kelas Sekolah Minggu yang lain. Ketika mereka bimbang karena beban yang dipikulnya, kita menasihati mereka dengan ayat Alkitab untuk melayani orang lain. Banyak di antara kita yang menganggap kemajuan rohani menuntut kita untuk melakukan lebih banyak, bahkan ketika hati kita berseru untuk meletakkan beban kita. Kira-kira apa yang akan terjadi kalau semua aktivitas yang dimotivasi oleh jenis rasa bersalah seperti ini dihentikan selama enam bulan?

Saat Yesus berbicara tentang dahaga dan kelegaan, Ia membawa umatNya pada realitas hati mereka sendiri. Dan realitas itu membawa kita kembali kepada Yesus.

~***~

Tuhan Yesus, aku haus. Aku lelah, dan dahaga. Aku menyerahkan semua pergumulanku, semua bebanku. Datanglah ya Tuhan. Berikanlah aku air hidupMu.

From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top