Bermurah Hatilah dengan Rumah Anda

Senin, 15 Februari 2021

Bacaan : Ibrani 13 : 1-16

Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. (Ibrani 13:16)

Bill adalah orang pertama kepada siapa saya jatuh cinta. Dia remaja 16 tahun yang tinggi dan berambut pirang. Saya masih berumur tiga tahun. Dia pemalu dan pendiam, tetapi dia selalu berbicara kepada saya. Dan dia mendengarkan saya karena saya waktu itu, seperti juga sampai sekarang, sangat cerewet. Dia duduk di samping saya saat makan malam. Dia tidak pernah melewatkan acara pesta keluarga. Pada ulang tahun saya yang ketiga ia memberi saya kamera plastik—lampu kilatnya sangat kecil, ada tabung berwarna-warni dan di sudut kamera yang akan berputar kalau ditekan tombolnya.

Saya yakin bahwa dia adalah cowok paling keren yang ada di muka bumi. Bill adalah adik ayah saya dalam program Big Brothers Big Sisters melalui klub Boys and Girls di kota kami.

Saya mempunyai banyak sekali kenangan yang jelas tentang Bill. Ayah akan menjemput dia dan membawanya ke rumah kami beberapa kali dalam sebulan, dan dia akan main di rumah kami seharian atau menginap di akhir minggu.

Saya ingat dia duduk di sofa ketika saya membuka hadiah ulang tahun saya, dan saya masih dapat melihat wajahnya yang tersenyum dan tertawa waktu saya memotret dia dengan kamera plastik saya yang lampu kilatnya bisa berputar itu. Tidak ada film dalam mainan itu, tetapi ia tidak pernah menceritakan kalau ia tahu hal itu.

Ayah sudah mengenal Bill cukup lama, karena ayah sudah dipasangkan dengan Bill dalam program itu sejak ia berumur 8 tahun. Tetapi untuk menjadi orang pertama yang saya cintai, saya tidak mendapat cukup waktu bersama Bill. Sekitar waktu Natal tahun 1983, Bill meninggal dalam kecelakaan mobil. Kami baru saja pulang dari acara Natal bersama keluarga ibu saya di Macon, Georgia, dan sesampainya di rumah, kakek saya (ayah dari ayah saya) menunggu kami di jalan masuk rumah. Saya masih bisa melihat wajah Kakek Jack melalui kaca mobil, berdiri di samping mobilnya, menunggu untuk menyampaikan kabar kepada ayah saya.

Ayah mengajarkan saya suatu pelajaran mengenai Bill, dalam hidupnya dan dalam kematiannya, yang ia terus ajarkan kepada saya berulang-ulang sepanjang hidup saya: beranilah mengasihi orang-orang di sekitarmu, sekalipun nampaknya terlihat seperti pengorbanan dan bisa jadi rasanya seperti rugi.

Orang tua saya menyambut Bill di rumah kami. Lagi dan lagi. Mereka memperlakukan dia seperti keluarga. Dan tahukah Anda? Kami sangat kehilangan dia. Hati kami hancur.

Tetapi semasa Bill masih hidup, kami berbagi rumah dan keluarga kami dengannya.

Bagi banyak orang, rumah adalah tempat sakral. Tempat di mana kita bisa menarik diri dari dunia yang keras dan gelap ini. Dan bermurah hati dengan rumah Anda tidaklah mudah. Mungkin Anda hanya ingin menjadi diri Anda sendiri. Mungkin Anda tidak ingin membagi waktu Anda. Mungkin Anda bahkan takut kalau terlalu terikat lalu kehilangan orang yang Anda sambut dalam keluarga itu, seperti keluarga kami dengan Bill.

Tetapi orang-orang yang berani menyadari bahwa mereka bisa memakai rumah mereka untuk mengasihi orang lain dengan kasih Kristus. Orang-orang yang berani bermurah hati dengan rumah mereka. Orang-orang yang berani mau berbagi—bahkan tempat sakral mereka—dengan orang lain.

Entah itu mengijinkan orang tinggal bersama Anda atau mengundang orang untuk makan malam di rumah, Anda bisa!

Bermurah hati dengan rumah Anda tidaklah mudah.

Ketika saya bertumbuh dewasa, terutama ketika saya masih kuliah, ada satu keluarga yang membuat saya merasa nyaman untuk bisa datang sewaktu-waktu ke rumah mereka. Tahukah Anda? Saya merasa seperti saya mempunyai rumah kedua. Mereka memberi saya teladan bahwa Anda tidak perlu menahan sesuatu terlalu erat. Anda tidak perlu hidup seperti itu. Bermurah hatilah dengan rumah Anda.

JADILAH BERANI: Undanglah seseorang untuk makan malam bersama di rumah Anda. Biarkan dia tinggal bersama keluarga Anda untuk beberapa waktu dan mendapat perhatian layaknya keluarga.

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top