Perkataan dapat Menyembuhkan

Sabtu, 6 Februari 2021

Bacaan : Kolose 3:16-17; 4:5-6

Omongan yang sembarangan dapat melukai hati seperti tusukan pedang; kata-kata bijaksana bagaikan obat yang menyembuhkan. (Amsal 12:18—BIMK)

Kita mempunyai dua pilihan bagaimana kita mau mempergunakan perkataan kita : kita bisa membangun atau kita bisa meruntuhkan.

Saya bisa menceritakan kepada Anda kisah demi kisah bagaimana perkataan seseorang memberikan saya kehidupan, membangun saya, menguatkan saya, membawa kesembuhan. Dan saya juga bisa menceritakan kisah bagaimana perkataan telah menghancurkan hati saya.

Kata-kata. Sangat. Kuat.

Saya tahu hal ini karena saya telah merasakannya berulang-ulang. Tetapi satu kejadikan ketika saya kelas 1 SMP ini meninggalkan bekas kuat dalam hati saya. Perkataan telah mengubah saya selamanya.

Pada tahun itu guru ilmu sosial saya ada Pak Samson. Ruang kelasnya ada banyak jendela, dan bangku-bangkunya ditata berjajar. Saya duduk di antara dua orang anak laki-laki dan di belakang sahabat saya. Pada suatu hari saya melihat salah seorang anak laki-laki itu meminjam sepotong kertas hijau kecil dari teman saya Sarah dan mulai membuat semacam daftar. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa tahu, tetapi saya tahu daftar itu adalah tentang saya. Saya tidak bisa melihatnya, tetapi memperhatikan bagaimana ia menulisnya sudah memberi tahu saya segalanya. Perasaan saya antara kuatir dan penasaran.

Jam pelajaran berakhir. Mark merobek kertas hijau itu menjadi sobekan kecil-kecil, dan ketika keluar kelas ia membuangnya di keranjang sampah. Setelah ruang kelas kosong, saya berkemas-kemas, dan dengan pandangan Pak Samson yang mengikuti setiap gerak-gerik saya, saya berlutut dan memunguti sobekan-sobekan kertas itu dari keranjang sampah dan memasukkannya ke dalam kantong depan jaket jeans saya.

Kita mempunyai dua pilihan bagaimana kita mau mempergunakan perkataan kita : kita bisa membangun atau kita bisa meruntuhkan.

Saya sampai di rumah sore hari itu, dan setelah makan malam saya naik ke kamar saya dan menaruh sobekan-sobekan kertas itu di atas karpet. Layaknya sedang menyusun puzzle, saya mencocokkan setiap bagian pinggiran kertas yang sobek-sobek sampai semua tulisannya bisa terbaca. Saya merekatkannya dengan isolasi, dan karena potongannya cukup kecil, kertas itu jadi seperti dilaminating dengan isolasi.

Saya mulai membaca tulisan cakar ayam dari teman sekelas saya itu. Itu adalah daftar nama semua anak perempuan di kelas kami dengan satu kata untuk menggambarkan tentang mereka.

Saya langsung mencari nama saya. Dan di baris nama saya terlihat begini:

Annie = Lembek.

Saya tahu Anda pasti pernah mengalami perkataan yang menyakitkan Anda, seperti saya. Karena kalau Anda orang yang berorientasi manusia, Anda pasti pernah mengalami luka karena perkataan secara langsung.

Saya tahu karena seumur hidup saya adalah orang yang berorientasi hubungan dengan orang lain. Dan saya kenal banyak orang yang seperti itu. Saya telah berbicara dengan banyak orang seperti itu. Dan saya juga pernah bersikap kasar terhadap orang-orang seperti itu.

Lihatlah ayat hari ini. Omongan yang sembarangan? Itu menyakitkan. Tetapi perkataan juga bisa menyembuhkan. Orang-orang yang berani tidak bergosip dan menggunakan kata-kata mereka untuk menyakiti orang lain.

Orang-orang yang berani menggunakan perkataan mereka untuk menyembuhkan. Berbicara dengan lemah lembut tentang hati dan pikiran dan tubuh orang lain dapat membawa kepada kesembuhan. Orang-orang yang berani mengijinkan Firman Tuhan dan perkataan yang bijak membawa kesembuhan bagi hati mereka sendiri. Kiranya Anda dapat melihat kesembuhan, merasakan kesembuhan, yang datang dari lidah orang bijak.

JADILAH BERANI: Hari ini, kepada siapakah Anda dapat mengucapkan perkataan yang bisa membawa kesembuhan?

From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top