Minggu, 20 Desember 2020
Bacaan : Mazmur 42
Jiwaku menangis karena duka hati, teguhkanlah aku sesuai dengan firman-Mu. (Mazmur 119:28)
Saya menginginkan untuk tinggal di Skotlandia sebelas tahun sebelum akhirnya itu terlaksana. Sebelas tahun. Beberapa kali selama usia dua puluhan saya, saya punya peluang untuk pindah ke sana, dan saya selalu berkata tidak. Waktunya selalu tidak tepat, saya merasa itu bukan rencana Allah yang terbaik, selain itu, di dalam lubuk hati saya . . . saya merasa takut. Saya takut pindah ke Skotlandia itu berarti saya tidak akan pernah menikah.
Saya selalu bermimpi saya akan menikah sebelum umur tiga puluhan dan mempunyai anak-anak, dan karena impian itu, saya membiarkan satu dekade itu berlalu karena memilih Amerika berarti memilih untuk menikah. Nah, saya tidak berkata bahwa tinggal di Amerika itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Saya tahu Allah berbuat banyak hal yang baik dalam hidup saya selama dekade tersebut; saya hanya tahu bahwa setiap kali peluang itu muncul di hadapan saya, ketakutan selalu berbisik kepada saya. Dan saya mendengarkannya.
Saya menemui konselor saya dua minggu yang lalu, dan selama pertemuan konseling itu berjalan, saya menumpahkan segala sesuatu yang telah saya cerna selama minggu-minggu sejak pertemuan kami yang terakhir. Setelah saya selesai mengungkapkan semuanya, ia menatap mata saya dan berkata bahwa tidak apa-apa untuk berduka.
“Tunggu,” kata saya. “Sepertinya saya tidak setuju dengan hal itu. Saya pikir saya seharusnya merasa baik-baik saja karena ini adalah rencana Allah dan saya mempercayaiNya dan bahwa Allah turut bekerja . . . “
“Impian yang kamu pikir akan terwujud dalam kerangka waktu tertentu ternyata tidak pernah terjadi. Kamu melihat kehidupanmu yang tidak akan pernah kamu miliki. Kamu boleh berduka atas kehilangan itu.”
Dia menyela.
“Impian yang kamu pikir akan terwujud dalam kerangka waktu tertentu ternyata tidak pernah terjadi. Kamu melihat kehidupanmu yang tidak akan pernah kamu miliki. Kamu boleh berduka atas kehilangan itu.”
Tidak seorang pun pernah memberitahu saya hal itu sebelumnya. Tetapi saya perlu mendengarnya. Saya mungkin belum menikah di usia yang saya rencanakan, tetapi Allah memimpin saya di jalan yang luar biasa indah di mana saya bisa memuliakan Dia.
Sangat mudah untuk menyimpan doa-doa yang tak terjawab dan kekecewaan-kekecewaan dalam hidup kita lalu menaruhnya di kolong tempat tidur sehingga kita tidak perlu memikirkannya lagi. Tapi tahukah Anda? Tidak apa-apa jika Anda berduka untuk impian yang telah mati. Melihat impian-impian itu membutuhkan keberanian. Tetapi ketika Anda menatapnya, berdirilah tegak, angkat kepala Anda, dan biarkan impian itu pergi. Anda akan melihat bahwa rancangan Allah dalam kehidupan Anda, meskipun jalannya berbeda dengan apa yang Anda harapkan, adalah kisah yang indah yang bahkan Anda sendiri tidak pernah dapat impikan.
JADILAH BERANI: Apakah impian Anda yang telah mati yang perlu Anda ratapi?
From “100 Days to Brave” by Annie F. Downs

