Senin, 9 November 2020
Bacaan : Matius 6 : 1-18
“…maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:4)
Gereja dan sekolah pelayanan kami sering kali dikenal sebagai pelayanan yang terbuka—keluar dan agresif. Kami telah melihat ratusan orang disembuhkan dan dilepaskan di tempat-tempat umum. Kami bahkan mendapat perkataan magrifat yang disampaikan melalui intercom di toko grosir lokal. Hasilnya luar biasa. Orang-orang menanggapi dengan berkumpul di sekitar meja kasir nomor 10 dan menerima pelayanan kesembuhan Yesus melalui salah satu anak muda kami bernama Chad. Setelah melihat kuasa Allah yang luar biasa, mereka diundang untuk memberikan hidup mereka bagi Kristus. Banyak orang yang melakukan itu.
Pelayanan terbuka sangat biasa bagi kami. Entah di mal, di lingkungan sekitar, di sekolah, atau tempat bisnis, Injil disampaikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ini baru separuh hal dari keseluruhan fakta tentang pelayanan yang dibutuhkan. Sebagian lainnya adalah pelayanan tertutup. Kata tertutup berarti “tempat tersembunyi”. Ini mengacu pada pelayanan yang lebih halus sifatnya. Pelayanan ini tersembunyi bukan karena takut, melainkan karena berhikmat. Pelayanan ini bekerja dalam sistem dunia untuk mendatangkan perubahan dengan menetapkan kembali norma pemikiran, kepercayaan, disiplin dan batas-batas hubungan yang benar. Dengan kata lain, kita bekerja untuk mengubah budaya. Hal ini membutuhkan lebih banyak waktu, karena tujuannya bukan kesembuhan atau pertobatan secara spesifik. Tujuannya adalah mengubah masyarakat itu sendiri dengan menerobos sistem kota dengan tujuan melayani. Melayani demi kepentingan mereka, bukan kepentingan kita, itu kuncinya. Seperti dikatakan seseorang, “Kita tidak seharusnya berusaha menjadi yang terbaik dalam dunia. Kita harus berusaha menjadi yang terbaik bagi dunia!” Jika kita mengesampingkan agenda keagamaan kita dan membuat orang lain sukses, kita telah belajar pola pikir Kerajaan Allah, dan telah menjadi bagian dari gerakan transformasi.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

