Ketidakpercayaan yang Menyamar sebagai Hikmat

Senin, 26 Oktober 2020

Bacaan :  Yohanes 12 : 37-43

Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepadaNya, (Yohanes 12:37)

Kisah dalam Yohanes 12 membahas salah satu keprihatinan saya yang terbesar terhadap gereja—yaitu maraknya sikap tidak percaya. Sikap tersebut sudah menyamar cukup lama sebagai hikmat dan harus dinyatakan sebagai dosa besar. Sikap tidak percaya memiliki penampilan luar seperti sudut pandang konservatif terhadap kehidupan, tetapi bekerja menaklukkan Allah sendiri pada pikiran dan kendali manusia. Sikap tidak percaya ini diperkuat oleh pendapat orang lain, yang memuji diri sendiri karena nampaknya ia tidak jatuh ke dalam sikap ekstrim seperti dilakukan orang lain. Yang jarang disadari oleh orang yang hidup dalam perangkap keagamaan seperti itu adalah bahwa pola pikir ketidakpercayaan ini tidak mampu mewakili Yesus sepenuhnya dalam kuasa dan kemuliaanNya.

Saya merasa prihatin karena begitu banyak orang Kristen menuntut saya untuk membuktikan bahwa Allah sungguh-sungguh melakukan segala perbuatanNya yang telah saya saksikan—seolah-olah Alkitab bukan bukti yang cukup. Yang lebih mengherankan adalah bahwa ketika mujizat terjadi di depan mata mereka, mereka masih menghendaki laporan dokter, rontgen, dsb sebelum mereka memberikan pujian kepada Allah. Sungguh menyedihkan melihat kursi roda yang kosong dan pemakainya bisa berjalan, orang yang tadinya depresi sekarang bersukacita, atau orang tidak bisa mendengar sekarang mendengar dan memberikan pujian, tetapi orang yang berdiri di samping mereka masih meminta bukti bahwa hal itu memang benar-benar mujizat. Saya menyadari bahwa memang ada penipu-penipu. Tetapi usaha yang berlebihan untuk melindungi diri mereka supaya tidak dibodohi ini lebih merupakan tanda ketidakpercayaan mereka dari pada hikmat untuk menghalangi mereka agar tidak tertipu. Ketakutan semacam itu hanya muncul jika ketidakpercayaan telah berkuasa begitu lama.

Namun, “kasih percaya segala sesuatu” (1 Kor 13:7). Perjumpaan yang lebih dalam dengan kasih Allah memerdekakan seseorang atas kecenderungan untuk melindungi diri mereka dari ketakutan melalui kehati-hatian yang tidak masuk akal. Dan karena mengingat bahwa “iman bekerja oleh kasih” (Gal 5:6), cukup masuk akal jika kita berkata bahwa iman untuk mempercayai bahwa Allah melakukan mujizat bisa muncul melalui pengalaman akan kasih Tuhan. Perjumpaan yang ajaib dengan kasih Bapa kita di surga yang agung akan menanggalkan begitu banyak ketidakpercayaan kita.

Terus-menerus meminta kepada Allah untuk menunjukkan diriNya kepada kita agar kita percaya, itu bukanlah hikmat. Meskipun memang benar bahwa melihat mujizat bisa membantu kita bertumbuh dalam iman, tetapi tuntutan semacam itu bukan merupakan kerinduan akan Dia, melainkan usaha untuk menempatkan Allah pada pencobaan. Ia tidak dapat dicobai. Kita yang dapat dicobai. Akal budi yang tidak diperbarui berlawanan dengan Allah dan menuntut Dia untuk melakukan sesuatu bagi kita. Sikap yang tidak sehat itu menempatkan kita pada peranan sebagai hakim. Arogansi semacam itu merupakan sumber ketidakpercayaan. Yesus menentang sikap semacam itu dalam perjumpaanNya dengan banyak tokoh agama.

From “Dreaming with God” by Bill Johnson

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top