Jumat, 23 Oktober 2020
Bacaan : Titus 2 : 11-15
datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga. (Matius 6:10)
Ketika saya pertama kali mendengar frasa, Kerajaan itu sekarang tetapi masih belum kelihatan, lebih dari 20 tahun lalu, kata-kata itu digunakan sebagai ungkapan janji. Saya sangat terbantu ketika menyadari bahwa kita memiliki akses untuk mendapatkan segala sesuatu saat ini, yang selalu saya anggap tidak dapat diperoleh. Frasa itu membantu saya untuk memusatkan perhatian pada realitas bahwa ada beberapa hal yang akan saya nikmati pada waktunya, dan beberapa hal hanya ada dalam kekekalan. Tetapi frase yang sama itu juga sering digunakan untuk menentukan pembatas dan keterbatasan, sehingga tidak membangkitkan harapan. Frasa itu digunakan untuk meredakan ketidakpuasan orang akan janji yang belum digenapi sekarang. Tetapi saya kurang setuju dengan sudut pandang ini, karena itu membuat orang merasa puas dengan sesuatu yang lebih rendah dari apa yang disediakan saat ini. Jarang saya mendengar hal itu digunakan untuk menggambarkan potensi atau janji bagi kita; hal itu hanya menekankan batasan dan halangan yang tidak diajarkan atau dibuat oleh Yesus.
Memang benar bahwa manifestasi sepenuhnya Kerajaan Allah jauh lebih besar dari pada yang mampu dialami tubuh fisik kita. Tetapi merupakan fakta yang juga benar bahwa ketika kita berada di surga kita masih mampu berkata tentang hal Kerajaan Allah: sekarang, tetapi masih belum. Karena tidak ada akhir bagi peningkatan pemerintahanNya. Sepanjang kekekalan KerajaanNya akan terus meluas, dan kita akan selalu bertambah maju. Saya mengajar orang-orang bahwa jika ”sekarang, tetapi masih belum” digunakan untuk menjelaskan janji dan potensi, terimalah itu. Tetapi jika hal itu dikatakan untuk membangun kesadaran tentang keterbatasan dan pembatas bagi kita, tolaklah itu. Kita tidak perlu mendengarkan orang yang tidak memiliki pengalaman Kerajaan yang nyata, untuk memberi tahu kita apa yang bisa dan tidak bisa kita alami seumur hidup kita. Sebaliknya, orang yang menjalani kehidupan iman mereka dengan paradigma pengalaman memahami bahwa kita akan selalu hidup dalam keseimbangan tentang apa yang sudah kita lihat dengan apa yang akan kita lihat, dan bahwa kita selalu bergerak masuk lebih dalam di dalam Allah. Ini adalah persoalan pemahaman berdasarkan pengalaman.
Seseorang harus berkarya melampaui batas pencapaian yang telah lalu dalam sejarah dan berusaha mencapai sesuatu yang dianggap mustahil oleh orang yang sejaman dengan mereka. Gereja seringkali dikenal sebagai kelompok yang tidak berubah. Hanya sedikit hal yang ada pada jaman ini akan ada jika orang-orang yang hidup sebelum kita tidak berusaha melampaui batas-batas yang ditentukan oleh nenek moyang mereka. Demikian juga dengan Gereja. Allah memanggil kita untuk mengalami petualangan ini. Dan petualangan ini kita sebut kehidupan Kristen yang normal.
From “Dreaming with God” by Bill Johnson

