Yesus Itu Rendah Hati

Selasa, 12 September 2023

Bacaan : Filipi 2 : 5-11

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (Filipi 2:8)

Penobatan Yesus mungkin adalah peristiwa paling sukacita dan kemenangan dalam sejarah, kedua setelah kebangkitanNya. Penobatan menjamin kemenangan kerajaan sukacita dan keindahan dan kehidupan, selamanya. Namun perjalanan menuju tahta itu sangat panjang. Langkah pertamaNya adalah penurunan yang mengejutkan—Anak Allah menjadi Anak Manusia dengan merendahkan dirinya. Tetapi kerendahan hati hampir tidak bisa menggambarkan inkarnasi.

Ini mengganggu pikiran. Anak Allah yang kekal, “Terang dari segala terang, Allah dari segala allah,” menghabiskan waktu sembilan bulan di dalam rahim Maria. Ia harus belajar berjalan. Sang Firman Allah harus belajar berbicara. Ia yang memanggil bintang-bintang dengan namanya harus mempelajari nama segala sesuatu, seperti halnya Anda. “Ini gelas. Bisa bilang gelas? Ge-laass.” Ataukah Anda pikir bayi Yesus datang ke dunia dengan perbendaharaan kosa kata dari Dictionary.com?

Dari abad ke abad, tanganNya yang murah hati telah memberi makan semua makhluk di muka bumi; sekarang Ia harus disuapi, air liur menetes dari mulutNya seperti anak balita pada umumnya. Anak Allah tidak tahu bagaimana cara mengikat tali kasutNya. Seseorang harus mengajariNya mengikat tali kasutNya. Yohanes Pembaptis berkata tak seorang pun di antara kita yang layak melepaskannya.

Saya melepaskan kasut saya. Kerendahan hati seperti ini tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

~***~

Biarkanlah hal ini meresap sejenak—Yesus harus disuapi. Ia harus belajar kata-kata seperti anak-anak lainnya. Ia harus belajar bagaimana mengikat tali kasutNya. Apa yang Anda rasakan ketika merenungkan hal ini?

From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top