Mengarahkan Pandangan kepada Tuhan

Senin, 13 Maret 2023

Bacaan : Mazmur 42

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Mazmur 42:6)

Seorang anak yang menangis dalam kegelapan akan merasa sangat berbeda ketika ibunya datang dan menyalakan lampu. Apa yang terasa begitu nyata dan ditakutkan seketika lenyap. Berhati-hatilah kalau Anda terlalu menggenggam kuat kepedihan Anda dan tidak mengijinkan Tuhan mendekat dan menyalakan lampu.

Saya menghargai bagaimana Daud dalam kitab Mazmur mengakui adanya badai dalam jiwanya, yang dicurahkan dengan penuh kejujuran, tetapi ia tidak membiarkan dirinya terus berada di sana. Ia mengingatkan jiwanya bahwa keadaan tidak selalu seperti ini—di sinilah biasanya hati kita gagal melakukan perubahan. Ketika Anda berada dalam kegelapan, Anda mulai merasa bahwa Anda selalu berada di sana. Tetapi itu tidak benar. Allah selalu setia di masa lalu, dan Allah akan tetap setia. Daud mendorong dirinya sendiri untuk menaruh harapan pada Tuhan, karena fajar pasti akan datang.

Anda akan melihat bagaimana Daud lolos dari ketenggelaman jiwanya: ia mengalihkan pandangannya dari puing-puing kehidupannya kepada arah yang lebih baik; ia mengarahkan pandangannya kepada Allah. Ke manakah Anda mengarahkan pandangan Anda?

~***~

Ketika berdoa dan menunjukkan emosi Anda kepada Tuhan, berhati-hatilah dalam hal membuat pernyataan yang membuka celah bagi jiwa Anda. “Aku merasa ditinggalkan” sangat, sangat berbeda dari “Aku sudah ditinggalkan.” “Aku merasa menang” sangat berbeda dari “Aku telah menang.”

From “Restoration Year: A 365-Day Devotional” by John Eldredge

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top